WASPADAI KEMATIAN MENJEMPUT

Assalamualaikum wr.wb
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156).

Berita tentang sunami itu begitu mengejutkan semua orang, apalagi bagi mereka yang keluarganya ikut menjadi korban dari sunami yang menimpa pesisir selat sunda itu. Tidak ada yang menyangka musibah itu akan terjadi, tidak ada yang bisa memprediksi kapan bencana itu datang. Meskipun peringatan-peringatan sebelumnya yang sudah di perlihatkan oleh anak gunung krakatau tak mampu untuk menunda atau memundurkan niat sebagian dari kita yang ingin menjalankan berbagai aktifitasnya disekitar pesisir selat sunda itu.
Hanya dalam hitungan menit lebih dari ratusan orang terhempas dalam gulungan sunami, mereka tidak menyangka akan secepat itu mereka menemui sang kholiq, mereka tak menyangka seketika itu saja mereka tidak bisa lagi bertemu dengan keluarga mereka, Ada yang belum sempat mengucapkan maaf, ada yang belum sempat mendirikan sholat yang sudah tiba waktunya, dan banyak lagi yang belum sempat mereka lakukan untuk mengurangi dosa dosa mereka. Mudah-mudahan semua jasad jasad mereka bisa di temukan dan dapat di kebumikan dengan baik, dan untuk mereka korban yang beriman kepada Allah, semoga diterima amal dibadahnya dan mendapatkan tempat yang layak disisi Allah swt.
Teman dan sahabat,

Dalam surat Al-Baqarah [2]: 28 dikatakan :
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepadaNya-lah kamu dikembalikan?”

Dari ayat ini jelas bahwa pada awalnya kita tidak ada, kemudian kita dihidupkan oleh Allah, kita dilahirkan kedunia, kemudian kita menjalani kehidupan kita ini, dengan berbagai masalah , cobaan dan ujian, hingga saatnya nanti. Saat dimana mau tidak mau suka tidak suka, tua atau muda, kaya atau miskin, pejabat atau orang biasa, semuanya akan mati. Tetapi kapan, dimana dan bagaimana cara kita mati, tidak seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan menjemput kita, apakah dalam keadaan khusnul khotimah atau sebaliknya dalam keadaan su’ul khotimah.
Setelah kita dimatikan oleh Allah kita dihidupkannya kembali untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita dan tak ada waktu lagi untuk memperbaikinya.

Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)

Waspada !!! itu adalah kata yang mungkin paling tepat, yang harus selalu kita tanamkan dalam hati kita, kita harus selalu waspada dan harus selalu bersiap diri untuk menjelang kematian kita, dalam situasi apapun dan dalam keadaan bagaimanapun hendaknya kita selalu bersiap diri menyongsongnya, agar saat kita menemui sang kholiq, kita dalam keadaaan baik dan tidak dalam keadaan terhina. Apapun yang tengah kita lakukan, jadikanlah semua itu ibadah bukan perbuatan maksiat. Hendaknya kita selalu berzikir dan mengingat Allah setiap saat, hindari selalu kebiasaan untuk menunda nunda sholat, jangan biarkan iblis masuk kepikiran kita untuk mengajak berbuat maksiat, upayakan diri kita selalu dalam keadaan bersih dan berwudhu, upayakan hati kita selalu bersih dan berfikiran positif, usahakan selalu berbuat baik kepada siapa saja terutama orang-orang disekitar kita, jangan terlalu banyak bicara untuk hal hal yang tidak terlalu penting , karena banyak berbicara akan mengundang pitnah baik bagi diri kita maupun untuk orang lain, jika kita pernah berselisih dengan seseorang segeralah kita meminta maaf kepadanya, jangan kita menunggu orang tersebut meminta maaf kepada kita. Ada rejeki berlebih segera berikan sebagian kepada orang yang membutuhkan bantuan kita, yang terpenting perbanyak amal ibadah kita, baik ibadah maghdoh maupun ibadah khoiru maghdoh dan jauhkan segala perbuatan maksiat setiap saat, kapanpun, dimanapun dan dalam keadaan bagaimanapun. Agar kita bertemu denganNya dalam keadaan khusnul khotimah.
Wallahualam bisawab, bila ini benar datangnya dari Allah, bila ini salah datangnya dari saya yang lemah.

Akhir desember 2018/taufikmagrib

MUHASABAH UNTUK MENUTUP KEKURANGAN AMAL KITA

Assalamualaikum wr.wb.
Di usia kita yang sudah menjelang magrib ini, kita mestinya sudah tidak lagi memikirkan tentang duniawi, mestinya kita sudah harus memikirkan tentang kehidupan kita di waktu yang mungkin sebentar lagi kita jumpai. Mungkin hal ini menakutkan bagi sebagian dari kita dan terlalu menegangkan kedengarannya, bahwa kita akan berjumpa dengan kehidupan berikutnya atau yang kita kenal dengan kehidupan Akhirat. Tetapi mau tidak mau, suka tidak suka, menakutkan atau tidak menakutkan itu akan terjadi dan pasti terjadi. Seperti beberapa orang teman dan sahabat, yang seusia dengan kita sudah lebih dulu tiba disana, mudah2an Allah mengampuni segala dosanya dan mendapatkan tempat yang layak disisinya, Aamiin..
Tanpa kita sadari, sampai saat ini kita masih asik bermain dengan sandiwara dunia tentang kesenangan dan kenikmatan semu yang kita dapatkan. Kita masih asik berkelakar, yang kadang kadang kelakar kita sering menggiring kita kepada kezoliman, ketidak baikan dan ketidak nyamanan teman teman kita sendiri. Kita masih sering berselisih pendapat dalam berbagai masalah yang tidak terlalu penting, tetapi ujung ujungnya adalah ketidak nyamanan diantara kita sendiri.
Dalam usia seperti sekarang ini,kita sudah selayaknya meninggalkan itu semua, mari kita coba sedapat mungkin mendekatkan diri kepada berbagai kebaikan yang Allah ajarkan kepada kita. Minimal kita sudah harus menghitung hitung amal baik kita dan membandingkan dengan dosa dosa kita. Seberapa banyak kebaikan yang telah kita berikan dan seberapa banyak keburukan yang kita lakukan selama kita hidup di dunia ini. Seberapa banyak sholat yang kita tinggalkan, sejak kita akhil baliq, hingga saat ini. Sudah berapa banyak ibadah puasa yang kita tinggalkan dan kita belum sempat melunasinya, seberapa banyak uang tidak halal yang kita makan dan seberapa banyak rizky yang bisa kita sumbangkan untuk amal kebaikan kita. Dan banyak lagi perbuatan baik dan buruk yang harus kita perhitungkan dan kita ingat ingat lagi.
Jika kita mau jujur barangkali, dalam hati kita berkata “ oh iya banyak sekali perbuatan baik yang belum saya perbuat “, “ oh iya sudah banyak sekali perbuatan dosa yang saya lakukan “, “oh iya sudah banyak sekali sholat dan puasa yang saya tinggalkan.
Teman dan sahabat. Kita tidak perlu putus asa dan berkecil hati, jika kita mendapatkan bahwa perbuatan buruk dan dosa kita, ternyata lebih besar di bandingkan dengan kebaikan yang telah kita perbuat. Allah maha pengasih lagi maha penyayang, Allah maha mengetahui kekurangan dan kelebihan kita.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Pelajarilah Al Quran ini, karena sesungguhnya kalian diganjar dengan membacanya setiap hurufnya 10 kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk الم , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan.” (Atsar riwayat Ad Darimy dan disebutkan di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 660).
Makna dan isi dari hadist diatas, bahwa dari setiap satu huruf Al Qur’an yang kita baca kita akan mendapatkan 1 kebaikan dan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan.
Inilah kesempatan yang paling mudah bagi kita, untuk dapat menebus semua kekurangan amal ibadah kita. Kita raih kebaikan yang diberikan Allah itu dengan cara kita dekatkan diri dan mengakrabkan diri kita dengan Alquran, Jika sekarang kita hanya mampu dan baru bisa menghafal dua tiga surat pendek, mari kita tambah hafalan surat surat kita, yaitu dengan cara setiap hari kita membacanya, disamping kita pahami makna dan artinya. Karena dari setiap hurup yang kita ulang ulang dalam membaca dan menghapalnya, akan banyak sekali kebaikan yang dapat kita peroleh, dan kalaupun kita tidak dapat menghafalnya atas surat yang ingin kita hapalkan, jangan putus asa, karena dari situlah Allah memberikan kebaikan kepada kita. Dari semakin sulit kita menghafalnya, dari situlah Allah berikan kebaikan itu, Allah tahu kita tidak bisa berbuat kebaikan dengan cara lain, maka dengan cara mengulang ulang bacaan itu Allah berikan kebaikan kepada kita untuk menutup kekurangan kekurangan atas dosa dosa yang telah kita perbuat. Bukan hanya kebaikan itu saja yang dapat kita peroleh, tetapi juga semakin dekat kita dengan Al quran, maka berbagai macam faedah dapat kita peroleh dan rasakan seperti ayat dibawah ini :
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. “Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30).

Semoga bermanfaat, dan menjadi pelajaran kita bersama, bila hal ini benar datangnya dari Allah dan bila salah ini datangnya dari diri saya yang lemah.
Taufik Magrib/akhir 2018

Berinfak dan ber sodakoh bukan hanya milik mereka yang mampu

Berinfak dan ber sodakoh bukan hanya milik mereka yang mampu, mereka yang kurang mampupun bisa berinfak dan bersodakoh.
Seperti sudah kita ketahui bersama, bahwa bersodakoh dan berinfak itu berdampak sangat besar bagi orang yang melakukannya, ada mereka yang merasa setelah berinfak dan bersodakoh, harta dan kekayaannya semakin bertambah, hidupya semakin tenang dan bahagia, penyakit2 yang dideritanya sembuh, dan banyak lagi dampak positif yang dirasakannya setelah mereka berinfak dan bersodakoh. Lantas bagaimana bagi mereka yang kurang mampu agar bisa ber infak dan ber sodakoh, sedangkan mereka sendiri tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar infaq dan sodakohnya, bahkan mereka sendiri sebenarnya masih pantas dan berhak untuk menerima infak dan sodakoh itu sendiri.
Teman, Sahabat dan para pecinta infak dan sodakoh.
Bila saat ini kita kurang beruntung di bandingkan dengan orang lain, dalam arti kata kita termasuk orang yang kurang mampu dalam hal ekonomi, maka bukan berarti kita tidak bisa ber infak dan bersodakoh. Katakanlah bila setiap hari kita harus makan mi instant untuk mengisi perut kita, maka dalam 1 hari kita bisa menyimpan 1 mi instant untuk kita infakkan. Caranya mudah, setiap kali kita membeli mi instant, diwarung atau dimana saja, maka saat itu kita sisihkan uang kita seharga 1 mi instant missal Rp. 2.000,- maka dalam 1 bulan kita bisa mengumpulkan uang sebesar Rp. 60.000,- Nah mudah bukan ?. berarti meski -hidup kita kekurangan, tetapi kita masih mampu untuk berinfak dan bersodakoh, dan Insya Allah pada bulan bulan berikutnya, bukan mi instant lagi yang menjadi makanan kita, tetapi daging sapi menjadi menu kita sehari hari. Aamiin…
t/magrib

SHOLAT MERUPAKAN PENYERAHAN DIRI KEPADA ALLAH

Sholat dalam Islam memainkan peranan yang sangat penting terhadap kesehatan jiwa. Sebagaimana yang kita ketahui, seorang muslim harus menjalankan shalat lima kali setiap hari disaat fajar, siang, sore, setelah matahari terbenam dan di malam hari. Sholat subuh sebanyak dua rakaat, shalat zuhur empat rakaat, sholat ashar empat rakaat, shalat magrib tiga rakaat shalat isya’ empat rakaat. Setiap rakaat terdiri atas satu berdiri, jongkok, berdiri kedua, sujud p0ertama, duduk dan sujud kedua.
Gerakan dalam sholat itu semata-mata sebagai penyerahan. Ketika seorang muslim berdiri dalam shalat, dia berdiri dengan kepala menunduk sebagai simbol penyerahan kepada Tuhan, Yakni Allah. Dalam berdiri, seorang muslim meletakkan kedua tangannya. Satu diatas yang lain dibawah dada (bersedekap). Posisi seperti ini merupakan simbol penyerahan juga. Sementara berdiri dalam shalat, seorang muslim tidak diperkenankan berpindah atau melihat kanan kiri atau tersenyum atau bercakap-cakap atau tertawa. Ddia berdiri menghadap kebawah dan mengucapkan beberapa ayat khusus dari kitab suci Al-Qur’an.
Membunghkuk dalam shalat bagi kaum muslimin juga merupakan tanda penyerahan kepada Allah. Gerakan membungkuk tersebut semata-mata sebagai simbol penyerahan.
Selama menjalankan shalat, seorang muslim bersujud dua kali. Sujud ini dengan jongkok dengan diikuti pembengkokan menyentuh tanah dengan dahi dan hidung. Sujud ini merupakan perwujudan yang maksimum terhadap konsep penyerahan diri kepada Allah.
Di dalam semua posisi berdiri, membungkukk dan bersujud ini, seorang muslim didalam shalatnya tidak diperkanankan berpindah tempat, tersenyum atau berbicara dan tidak diperkenankan menambah atau menghilangkan satu gerakan sekalipun. Semua muslim di seluruh dunia melakukan shat dengan cara yang sama.
Hal yang penting disini adalah gerakan gerakan shalat melatih orang muslim dengan praktik tunduk kepada Allah. Shalat sebagaimana kita kethui, meliputi semua posisi yang memungkinkan seluruh tubuh merupakan ungkapan penyerahan, Shalat meliputi berdiri, membungkuk, berjongkok dan bersujud. Sebagaimana hal ini sudah jelas, posisi seperti ini diatur secara ideal sesuai dengan tingkat tingkat penyerahan, dengan berdiri terlebih dahulu, berjongkok kedua, membungkuk ketida dan akhirnya bersujud.
Kaum muslimin berdiri berserah diri kepada Allah selama 34 kali sehari, membungkuk 17 kali sehari, berlutut 34 kali sehari dan bersujud 34 kali sehari. Semua gerakan itu dilakukan dengan rangkaian maksimum penyerahan kepada Allah.
Penyerahan diri kepada Allah merupakan hal yang penting, Jika kita beriman kepada Allah , maka kita harus berserah diri kepadaNya, patuh kepadaNYa, mencari petunjuk, pertolongan, dukungan, menjauhi larangan dan melaksanakan perintahNya.
Karena itu, shalat amenghubungkan kaum muslimin dengan Allah lima kali sehari, Hubungan ini menyuburkan keimanan kepada Allah, Keimanan kepada Allah memerlukan penguatan terus menerus. Jika seseorang beriman kepada Allah atetapi jarang menyebutNya atau menyembahNya, maka keimannnya itu lemah. Maka disinilah pentingnya shalat. Hal ini menempatkan oranga baeriman pada hubungan kepada Allah secara terus menerus. Shalat membuat kaum muslimin menyerahkan diri kepada Allah dan taat kepadaNya. Itulah mengapa shalatt menekankan posisi yang menyampaikan makna penyerahan dengan sifatnya seperti berjongkok, berlutut dan bersujud.

ISLAM DAN KEJUJURAN

Islam memerintahkan kepada kaum muslimin untuk jujur, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Perintah ini selalu di ulang-ulang di dalam Al-Qur’an dan Sabda Rasulullah saw. Islam memerintahkan kepada umatnya untuk berkata benar walaupun bertentangan dengan keinginannya. Islam melarang kaum muslimin berbuat curang atau menipu orang lain. Seorang muslim diperintah Allah untuk jujur baik dalam perkataan maupun perbuatannya. Baik ketika sendiri maupun didepan umum.
Jujur dalam perkataan berarti berkata benar dalam segala hal dan dalam kondisi apapun. Jujur juga berarti menepati janji, baik tertulis maupun diucapkan dengan lisan. Jujur juga berarti memberi saran yang baik kepada orang yang membutuhkan. Jujur juga berarti melakukan pekerjaan secara tulus dan sesempurna mungkin. Jujur juga mengandung arti menjalankan tugas sepenuh hati apakah diawasi atau tidak. Jujur mengandung arti memberikan hak kepada orang lain tanpa orang lain itu memintannya. Jujur berarti melakukan sesuatu secara benar, baik dalam cara maupun waktunya. Jujur bermakna melakukan penilaian secara obyektif, obyektif dalam mengevaluasi maupun memutuskan semua jenis persoalan. Jujur mengandung arti penyeleksian dan penaikan pangkat yang b enar terhadap seseorang, yakni penyeleksian dan penaikan pangkat karena kelayakan, bukan karaena pilih kasih atau hubungan hubungan pribadi.
Jujur merupakan satu istilah utuh yang mencakup sejumlah sifat-sifat, berkata benar, ikhlas dalam bekerja, melaksanakan kewajiban dan memutuskan perkara dengan caya yang obyektif. Jujur itu berb eda dengan sifat bohong, pura-pura, munafik, pilih kasih dan menipu.
Pahala dari kejujuran berasal dari Tuhan, dari manusia dan dari kepuasan jiwa yang dirasakan orang jujur itu sendiri. Apabila kita jujur, kita disukai Tuhan dan orang yang berhubungan dengan kita. Kejujuran kita akan memberikan persetujuan sosial yang kita perlukan, dan disini munculah nilai sosial kejujuran. Selanjutnya kalau setiap orang jujur, banyak persoalan manusia seperti bohong, curang, pura-pura, mencuri, pemalsuan dan masih banyak lagi penyakit sosial yang lain akan hilang. Dengan kata lain, kejujuran itu sesuatu yang kita berikan dan sesuau yang kita peroleh. Orang lain merasakan kesenangan atas kejujuran kita dan kita menikmati kejujuran orang lain.
Kalau tidak ada kejujuran, banyak penyakit sosial akan muncul. Jika seseorang tidak jujur, dia bersedia berkata bohong, meyuap, disuap, mangganti kebenaran, berbuat curang, memalsu, menipu orang lain dan meningkari jaji. Orang yang tidak jujur adalah orang yang benar benar sakit. Dia akan selalu siap berbuat kejelekan kapanpun. Setiap waktu dia berbuat jelek, dia menyebabkan kesulitan besar atau selalu merugikan seseorang atau kelompok atau seluruh bangsa dalam beberapa hal.

ALLAH MAHA PEMURAH

Islam menyatakan kepada orang yang beriman bahwa Allah itu Maha Murah. Konsep bahwa Allah maha murah ini penting dalam Islam. Kemahamuraan Allah mempengaruhi kaum muslimin dalam dua hal : Yakni memberi contoh dan ampunan. Jika Allah itu Maha Murah, manusia harus juga pemurah. Orang harus mempunyai sifat pemurah kepada orang lain dari semua ras dan agama. Orang juga harus menunjukkan kemurahannya kepada binatang. Orang harus pemurah kepada orang lain baik laki-laki maupun perempuan, kepada handai taulan dan orang asing, kepada orang tua dan putranya, bahkan kepada semua makhluk hidup.
Pandangan tentang kemurahan ini di dalam Islam memberi seseorang rasa aman, karena kemurahan itu sesuatu yang kita berikan kepada orang lain dan sesuatu yang diberikan orang lain kepada kita. Jika setiap orang mempunyai rasa murah dengan caranya masing-masing, setiap orang akan merasakan kemurahan itu dan merasa aman dalam hidupnya, dalam kehormatannya, hak-haknya dan harta miliknya.
Kemurahan Allah berlaku dalam cara yang berlainan. Jika seseorang berdosa, dia tidak akan disesatkan dari rahmat Allah untuk selama-lamanya. Dalam Islam, jika kita berdosa dan kemudian dengan tulus menyesali, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Rumusan tentang kemahamurahan dan ampunan Allah itu menjadikan setiap muslim merasa aman dalamm hubungannya dengan Allah dan aman berkaitan dengan kode etik dan masa depan moralnya.
Konsep tentang kemurahan Allah dan kemurahan hati manausia ini ditekankan oleh Islam. Apabila seorang muslim menikmati makanan, ia memulai dengan mengucapkan Bismillahi ar-rohmani ar-rokhim “ dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.” Apabila seorang muslim membaca Al Qur’an maka ia memulai dengan menyebut Asma Allah. Didalam shoalat, orang Islam menyebut Asma Allah berulang-ulang setiap hari.
Jadi orang Islam mengulang konse tentang kerahiman Allah berulang kali setiap hari. Seorang muslim hidup dalam kerahiman Allah, baik seraca fisik maupun psikis. Seorang muslim dibimbing untuk merasakan bahwa Tuhan itu Maha Murah, dan bernafas itu karena kemurahan Tuhan. Jika hubungan seseorang dengan Allah dan dengan orang lain dikontrol dengan kemurahan, hal ini akan membuat dia merasa aman saat ini maupun besok.
Iman kepada Allah memberi kepada orang beriman rasa aman. Bagaimana seorang dapat merasa aman jika tidak beriman kepada Allah. Penelitian telah membuktikan, bahwa gangguan mental yang diakibatkan kekafiran lebih banyak dan lebih sesat dari pada keimanan. Orang kafir tidak meyakini sesuatu. Ia tidak yakin akan permulaannya , berakhirnya atau tujuannya. Orang yang kafir tidak meyakini akan nilai, idealisme, benar, salah, baik atau buruk. Orang kafir biasanya orang yang skeptis, cemas, kacau dan ragu-ragu.
Sebailknya, orang muslim mengetahui bagaimana dia memulai. Orang muslim tahu bagaimana hidupnya akan berlanjut. Orang muslim seratus persen yakin mengenai mana yang benar dan mana yang salah, apa yang baik dan apa yang buruk. Orang muslim tentu yakin akan dirinya sendiri, tentang kehidupannya, alam sekitar, tentang hubungan sosialnya, hak dan kewajibannya, orang muslim yakin akan ideal dan nilai.
Kepastian kaum muslimin mengenai nilai dan idealnya mucul dari kode etik menyeluruh yang difirmankan Allah kepada manusia. Apabila seseorang memiliki nilai, idealisme yang jelas, permulaan yang jelas, dan tujuan yang jelas, maka ia akan merasa aman karena ia tahu kemana ia akan pergi dan bagaiamana ia pergi. Sampailah kepada data yang lebih khusus, jika kita melihat sejumlah masyarakat non-muslim, kita dapati lebih banyak orang-orang yang mempunyai gangguan mental. Hal ini berkaitan dengan kurangnya rasa beragama didalam masyarakat tersebut. Tanpa agama orang akan merasa kehilangan, merasa tidak ada dorongan dan merasa bahwa dia tidak mempunyai tujuan penting, Dilain pihak, dengan beriman kepada Allah orang akan merasa aman karena dia merasa bahwa dia dibimbing dan didorong oleh Allah dan dia mempunyai tujuan utama.
Jadi Islam memberi pada manusia rasa aman yang ia butuhkan secara psikologis. Islam menjamin manusia dengan keamanan melalui hidup yang berkelanjutan, melalui Kasih sayang Allah dan petunjuk Allah.
Jika kita tahu bahwa kehidupan kita itu berkelanjutan maka kita merasa aman. Apa bila kita tahu bahwa Allah itu maha murah kita akan merasa aman. Apabila kita tahu bahwa Allah itu membimbing dan melindungi kita yang berimannya kepadanya, kita akan merasa aman.

JANGAN MENAMBAH MASALAH

Kesalahan-kesalahan kita sering dikarenakan sering terjebak dalam sikap emosional. Dalam menyikapi tiap-tiap masalah , emosi lebih menonjol mengalahkan kesadaran diri. Maka lahirlah tindakan-tindakan yang tidak terkontrol. Dengan tindakan-tindakan seperti itu banyak kebaikan yang mestinya bisa diperoleh akhirnya “berterbangan” begitu saja. Malah kemudian muncul kesulitan-kesulitan baru. Semua itu bermula dari sikap emosi dan tergesa-gesa ketika berhadapan dengan sesuatu masalah. Pernah terjadi dimasa Rasulullah Saw, seorang Arab Badui buang air kecil di dalam mesjid. Tentu saja perbuatan itu membuat marah orang-orang yang ada di mesjid.

Maka bangkitlah orang-orang berniat memukuli orang Badui itu. Mereka beranggapan, perbuatan badui itu sudah tidak bisa lagi dibiarkan. Namun Rasulullah Saw, yang melihat kejadian itu segera mencegah, sambil bersabda “Biarkan dia, cukup tuangkan diatas tempat buang airnya dengan setimba air”

Rasulullah Saw adalah orang yang paling tahu hukum Allah dan paling gigih menjaga kehormatan syiar Islam. Meskipun demikian dalam kasus ini beliau seolah hendak menentang pendapat umum yang bekembang. Beliau mencegah Badui itu disakiti. Dan untuk meredakan emosi orang-orang, Rasulullah segera mengemukakan solusi pemecahan masalah yang logis dan amat mudah untuk diikuti, dengan menyiram bekas buang air orang Badui itu cukup dengan setimba air bersih.

Bukan tanpa alasan jika Rasulullah Saw bersikap lunak seperti diatas. Orang-orang Badui bukanlah kelompok masyarakat yang memiliki tingkat pengetahuan dan kesadaran budaya seperti masyarakat perkotaan  pada umumnya. Mereka terbelakang, miskin dan kurang sadar etika. Wajar jika mereka melakukan hal-hall yang menurut etika umum sangat tidak patut dilakukan. Betapa tidak bijak jika suatu perlakuan diberikan tanpa memandang latar belakang dibalik perbuatan yang muncul.

Selain itu, dengan kejadian tersebut, Rasululllah Saw, juga hendak memberi keteladanan yang demikian luhur. Ketika dihadapkan pada satu kejadian yang tidak lazim dan cenderung mengejutkan. Radulullah cenderung berusaha mencari solusi atas masalah itu, bukan menagembangkan masalah sehingga lebih meluas dan berlarut-larut.

Jika orang-orang disekitarnya tidak beliau cegah tentu masalah itu akan berkembang lebih luas lagi. Minimal citra Islam akan tercoreng dimata orang Arab Badui itu. Wajar jika dalam lanjutan sabdanya mensikapi kejadian diatas, Rasulullah Saw mengatakan “Sesungguhnya kalian dibangkitkan (kemuka bumi ini) untuk memudahkan, dan tidak kalian dibangkitkan untuk membuat kesukaran” (HR. Bukhari).

Riwayat ini sangat menggugah kesadaran kita. Dalam segala hal kita dituntut untuk senantiasa menjaga kesabaran, ketenangan dan akal sehat. Kita dianjurkan untuk menjaui sikap emosional, tergesa-gesa apalagi amarah. Sikap-sikap terakhir ini tidak akan banyak berguna kecuali hanya kian menambah masalah.